By Linda Sieg
"Look! It's huge!" shouts a muddy but beaming Han Myung-Ja, 52, plunging her hoe into the soil to unearth a giant ginseng root.
New Zealand authorities delayed plans to lift no-go zones in quake-hit Christchurch Friday after major aftershocks again rattled the country's second largest city.
Asia Pacific News
- Japan PM has edge in party race but outcome unclear
- South Koreans pay homage to health-giving herb
- NZ quake city no-go zones remain after more aftershocks
- Japan artist brings manga controversy to Versailles
- 'Salesman in chief' Schwarzenegger on Asia trade trip
- Pastor calls off Koran burning, claims deal over NY mosque
- Vettori named New Zealand player of the year
- detikcom - Habitat Harimau di Dunia Surut 40% | 22 July 2006
- Tempointeraktif.com - Cirebon Siap Jadi Provinsi Baru | 19 March 2006
- Kompas - Puisi-puisi Zeffa Yurihana | 30 June 2009
- detikcom - Jepang Cari Penembak Jurnalisnya ke Myanmar | 29 September 2007
Other News on Jumat, 21 Januari 2005
detikcom - Bom Mobil di Irak, 14 Orang Tewas
detikcom - Lima Gunungan Gerebeg Kraton Ngayogyakarto Ludes Dirayah
detikcom - 2 Pesawat Rolet Australia Bersenggolan di Udara
detikcom - Presiden SBY Salat Id di Aceh, Wapres Kalla di Jakarta
detikcom - PMI Bagikan Paket Idul Adha untuk Korban Tsunami di Aceh
detikcom - AS Segera Tarik Pasukan dari Aceh
detikcom - Wapres : Pemda Masih Sanggup Tangani Banjir Jakarta
detikcom - Din Syamsuddin Kunjungi Pengungsi Korban Banjir
Gatra.Com - Masyarakat Yogya Kurang Sadar Pariwisata
detikcom - Keppres Pemberhentian Seswapres Diteken Senin, Asril Noer Jadi Plt
detikcom - Struktur Baru Setneg: Tak Ada Sespres, Jubir di Bawah Seskab
detikcom - Amrozi cs Ikut Salat Id di LP Kerobokan Denpasar
Gatra.Com - Bush Peringatkan Rejim Tirani dalam Pidato Pelantikan
detikcom - Saatnya GAM dan Pemerintah Akhiri Konflik Senjata
detikcom - Jaringan Terganggu, Teleconference SBY-Kalla Batal
detikcom - Presiden SBY Ajak Warga Aceh Menatap ke Depan
Gatra.Com - Pesawat Puteh Tertunda Hingga Pukul 20:00 WIB
Gatra.Com - Teleconference Presiden-Wapres Batal
Gatra.Com - Karena Bola Meledak, Pertandingan Diulang
Gatra.Com - Kawasan Puca` akan Jadi Obyek Wisata Primadona Sulsel
Gatra.Com - Nakata Bimbang Antara Pilihan ke Kahsima atau Marseille
detikcom - Bush Dilantik Jadi Presiden AS Lagi
detikcom - Hindari Konflik, Pemerintah Percepat Persiapan Pilkada
Gatra.Com - Sebanyak 171 Mayat Dievakuasi
Gatra.Com - Angin Kencang Bunga Kongres
detikcom - Kunjungi Aceh, Sore Nanti Puteh Keluar dari Rutan Salemba
detikcom - Waspada Gelombang Pasang, Warga Malang Ronda Malam
detikcom - Keamanan LP Krobokan Tak Layak untuk Terpidana Bom Bali
detikcom - Lhok Nga-Meulaboh, 53 Jalan dan Jembatan Rusak
Gatra.Com - Yudhoyono dan Gus Dur Sholat Ied Bersama di Aceh
Gatra.Com - Para Mantan Pejabat Tinggi Beri Hewan Qurban di Aceh
Gatra.Com - Asril Noor PLT Seswapres
detikcom - Perbedaan Data Pasukan Asing di Aceh Bukti Buruknya Koordinasi
detikcom - Mantan Sekwan Dilaporkan ke Polisi
detikcom - Din Ngaku Lebih Nyaman di Muhammadiyah daripada Partai
detikcom - Din: Bencana Aceh dan Sumut Ujian Bagi Umat Manusia
detikcom - Warga Libur Idul Adha 2 Hari, Meulaboh Relatif Sepi
detikcom - Belasan Relawan Berenang Ria di Pantai Meulaboh
detikcom - Idul Adha, Hercules Ikut Berkurban
detikcom - BUMN Siapkan Rp 48 M untuk Rehab & Bea Siswa Anak Aceh
Gatra.Com - Jabatan Sekretaris Presiden Dihapuskan
detikcom - Rumah Tergenang, Ratusan Warga Kampung Pulo Masih Ngungsi
detikcom - Pasca Banjir, Sampah Menggunung di Manggarai
detikcom - Pengamanan Masjid Baiturrahman Banda Aceh Sangat Ketat
detikcom - Kalla Terima 16 Sapi dan 40 Kambing Golkar
Gatra.Com - Pemerintah akan Bicara dengan DPR Soal Badan Otorita Aceh
detikcom - Jembatan di Lhok Nga Segera Aktif
Gatra.Com - Penasihat Hukum Waris Halid Minta Mantan Menperindag Dihadirkan
detikcom - PKS Kirimkan 130 Relawan Guru dan Psikolog ke Aceh
Forum Views () Forum Replies ()
Irak 'Bergerilya' ke Eropa
BAGDAD -- Setelah berhasil menggalang negara-negara Arab untuk menolak serangan Amerika Serikat, pemerintah Irak kini tengah melakukan kampanye yang sama ke negara-negara Eropa. Irak melihat peluang untuk menggaet Eropa setelah menteri-menteri luar negeri Uni Eropa menyerukan digunakannya jalan diplomasi, bukan militer, untuk menangani masalah Saddam Hussein.
Laporan dari Washington menyatakan bahwa para komandan militer AS khawatir aksi militer ke Irak akan memecah perhatian dan sumber daya AS yang kini dikonsentrasikan untuk perang melawan terorisme. Di saat yang sama Menteri Luar Negeri AS Colin Powell menekankan perlunya AS mengungkapkan kepada dunia bukti-bukti ancaman Irak.
Wakil Presiden Irak Taha Yassin Ramadan pada Ahad lalu mengumumkan rencana menyebar diplomat ke negara-negara anggota Uni Eropa setelah ia memuji penolakan Eropa untuk mendukung jalan keras yang dipilih Washington.
"Irak akan mengirimkan utusannya ke sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis dan Jerman, untuk menjelaskan bahaya ancaman AS kepada rakyat Irak serta bahaya yang akan mengancam perdamaian dan keamanan dunia," kata Ramadan kepada kantor berita Irak, INA.
Ia mengatakan, penolakan Prancis dan Jerman atas rencana AS menyerang Irak tanpa mendapat mandat dari PBB "menunjukkan negara-negara Eropa sadar akan bahaya hegemoni AS yang ingin menguasai seluruh dunia tanpa terkecuali."
Dari London dilaporkan, Perdana Menteri Tony Blair meminta Presiden AS George Bush untuk tidak menyerang Irak secara sepihak, tapi harus lebih dulu mendapatkan dukungan dari dunia internasional lewat kesepakatan di PBB.
Meski menolak rencana serangan militer AS, para Menteri Luar Negeri Uni Eropa yang berkumpul di Denmark akhir pekan lalu menekan Bagdad untuk segera mengizinkan pemeriksaan senjata PBB.
Kekhawatiran juga datang dari pihak militer. "Dapatkah Anda bayangkan bagaimana jadinya jika kami berangkat perang ke Irak dan di saat yang bersamaan ada serangan teroris lainnya di Amerika Serikat?" kata seorang perwira senior AS.
Ketika negara-negara Arab menolak untuk mendukung serangan ke Irak, pangkalan NATO di Turki menjadi satu-satunya negara yang dapat diharapkan AS untuk dapat dijadikan pangkalan utama serangan ke Irak. Namun, Turki pun menolak mendukung hal ini.
Salah satu alasan yang dipakai AS untuk menyerang Irak adalah karena negara itu memiliki senjata pemusnah massal seperti nuklir, biologi, dan kimia. Kamis pekan lalu, Wakil Presiden AS Dick Cheney kepada veteran Perang Korea di San Antonio, Texas, mengatakan bahwa Irak tetap "mengusahakan program senjata nuklir yang agresif. Banyak di antara kita yang yakin bahwa Saddam akan mendapatkan senjata ini dalam waktu dekat."
Namun, Deputi Perdana Menteri Irak Tareq Aziz membantah hal itu. "Kami tidak mengusahakan hal itu," kata Aziz dalam wawancara dengan stasiun televisi CNN saat menghadiri KTT Bumi di Johannesburg, Afrika Selatan. "Amerika Serikat tidak memiliki bukti untuk mendukung tuduhan mereka."
Aziz juga membantah adanya kaitan antara Bagdad dan jaringan Al-Qaidah pimpinan Usamah bin Ladin. "Kami tidak memiliki hubungan dengan Al-Qaidah," katanya. Ia menepis berita bahwa Al-Qaidah yang terusir dari Afganistan itu kini tengah mendirikan kamp latihan di Irak. "Mereka tidak ada di dalam wilayah Iran yang berada dalam kontrol kami."
"Puluhan kali, bahkan ratusan kali, saya katakan, ideologi politik kami bertentangan dengan ideologi yang diterapkan oleh Taliban dan Al-Qaidah," kata Aziz yang beragama Nasrani ini. afp/qaris
Filipina Siapkan Rencana Evakuasi Warganya dari Timur Tengah
MANILA -- Pemerintah Filipina telah menyiapkan contingency plans untuk menyelamatkan 1,5 juta pekerja asal negeri itu di Timur Tengah jika Amerika Serikat benar-benar melakukan serangan ke Irak.
Menteri Luar Negeri Filipina Blas Ople menggelar rapat yang diikuti oleh manajemen krisis antarinstansi dan komite keamanan untuk mendiskusikan cara menyelamatkan dan mengevakuasi warga Filipina dalam waktu cepat.
"Kami tahu bahwa serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat ke Irak dan respons Irak atas serangan tersebut dapat berdampak pada keselamatan warga Filipina di Timur Tengah," kata Departemen Luar Negeri Filipina dalam pernyataannya.
Rencana keselamatan itu termasuk cara merelokasi warga Filipina dan memproses pemulangannya. Mereka juga membicarakan anggaran cepat cair yang dapat digunakan sewaktu-waktu dalam waktu singkat.
Kesiapan pemerintah Filipina ini bukan suatu kekhawatiran yang berlebihan, karena pada Perang Teluk 1991 sekitar 25 ribu pekerja mereka dipulangkan.
Departemen Luar Negeri Filipina juga menghitung kemungkinan akan digunakannya senjata inkonvensional dalam serangan ke Irak. Menurut mereka, penggunaan senjata pemusnah massal ini membuat mereka kesulitan untuk menentukan tindakan apa yang harus diambil.
Bagaimana dengan Indonesia yang juga memiliki ribuan orang di Timur Tengah? afp
Berita Acak dari arsip :

