A 7.2 magnitude earthquake rocked New Zealand's second largest city Christchurch early Saturday, causing widespread damage including the collapse of some buildings and power outages, witnesses and the US geological survey said.
WELLINGTON (Reuters) - A major earthquake of 7.0 magnitude hit New Zealand, 30 km (20 miles) west of Christchurch early on Saturday morning, causing no immediate reports of casualties but widespread damage, authorities said.
British police on Friday questioned the three Pakistani cricketers embroiled in fixing claims, as the sport's governing body insisted the case was not the tip of a corruption iceberg in the game.
Asia Pacific News
- 7.2 magnitude earthquake shakes New Zealand
- Quake of 7.0 hits New Zealand near Christchurch
- British police quiz Pakistan trio in probe
- Strong 7.2 magnitude earthquake hits New Zealand
- Pakistani Taliban threaten attacks in U.S., Europe
- Suicide bomber kills 53 at Shiite rally in Pakistan
- Obama-ASEAN summit on September 24 in New York
- Kompas - Arab Saudi Sahkan UU Perangi Perdagangan Manusia | 1 October 2009
- Kompas - 243 Penderita AIDS Meninggal di Kalbar | 27 November 2008
- Anelka Mau Setia Dulu Baru Fokus ke Uang | 17 December 2009
- detikNews : situs warta era digital | Hidayat: Survei Capres Bukan Tuhan | 10 August 2008
Other News on Jumat, 11 November 2005
Tempointeraktif.com - BEJ Hentikan Sementara Perdagangan Saham Sumalindo Lestari
detikcom - RI Sampaikan Bela Sungkawa kepada Yordania
Tempointeraktif.com - Golkar Yogyakarta Minta Kalla Tinggalkan Salah Satu Jabatannya
detikcom - Terkait Terorisme, Polisi Geledah Rumah Subur di Kendal
detikcom - Terlibat Teror Bom Molotov, Polisi Riau Dipecat
detikcom - Seorang Remaja Kembali Ditebas Orang Tak Dikenal, Poso Tegang
Tempointeraktif.com - Kepastian Pemulangan Jenazah Ferry Tunggu Koordinasi Deplu
detikcom - Polri Harus Intensifkan Pengejaran Noordin M Top
detikcom - KY Periksa 2 Pegawai MA Senin
detikcom - 20 Hari Menginap di DPRD, Buruh PT Musim Mas Diusir
detikcom - Jenazah Korban Bom Yordan Tiba di Indonesia Minggu
detikcom - Polda Jateng Bungkam Soal Penangkapan Kurir Azahari
detikcom - Dokumen Azahari Sama dengan 2 Pengebom Bali II
detikcom - Menlu: Terbuka Peluang Keluarga Jemput Jenazah Azahari
detikcom - Keluarga Pinky Terbang ke Yordan
detikcom - Misno Pergi ke Batam Sejak Agustus untuk Mencari Kerja
detikcom - Blokade Teroris, Hotel dan Mal di Semarang Dijaga Polisi
detikcom - Pejabat Palestina Korban Tewas Bom Yordan
Tempointeraktif.com - Komisi Antikorupsi Periksa Bagir Pekan Depan
Gatra.Com - Yahya Anthoni Diduga Penghubung Dr. Azahari
Tempointeraktif.com - Atasi Flu Burung, Jerman Bantu 5 Juta Euro, AS 3,1 Juta Dolar
detikcom - Broken Home, Top Model Leslie Jadi Pengguna Ekstasi
Tempointeraktif.com - Marty Natalegawa Dilantik Jadi Dubes Inggris
detikcom - Pasca Bentrok, Pejabat & Warga Jumatan Bersama di Salena
Tempointeraktif.com - Gardu Listrik Tersambar Petir, Stasiun Gambir Gelap
Tempointeraktif.com - Indeks Berpeluang Turun
Tempointeraktif.com - Cikungunya Menyerang Trenggalek, Pemda Tetapkan Status KLB
Tempointeraktif.com - Mukhlas Ajukan Peninjauan Kembali ke MA
Gatra.Com - Amrozi Dkk Bertemu Keluarganya
Tempointeraktif.com - Pelaku Bom Bunuh Diri di Bali Yakin Masuk Surga
detikcom - PNS Bolos Pasca Lebaran 3%
Tempointeraktif.com - Perry Pattiselano, Pemusik Tak Pernah Pensiun
Gatra.Com - Jenazah Azahari dan Arman Sudah Diterbangkan ke Jakarta
detikcom - 3 Polisi Penadah Taksi Rampokan Kena Sanksi Disiplin
detikcom - Keluarga Minta Azahari Dikubur di Malaysia
detikcom - Tiba di RS Sukanto, Jenazah Azahari Langsung Diotopsi
detikcom - Polisi Temukan Rekaman Pernyataan Pelaku Bom Bali II
detikcom - Jenazah Azahari dan Arman Diterbangkan ke Jakarta
detikcom - Putra Seorang Petinggi TNI Diduga Terlibat Pengrusakan Bar
detikcom - MUI dan PGI Sambut Baik Tewasnya Azahari
detikcom - Polisi Periksa Keluarga dan Tetangga Misno di Cilacap
detikcom - Polri Gerebek Pabrik Ekstasi Terbesar Ketiga di Dunia
detikcom - Evaluasi Menterinya, SBY Tak Singgung Reshuffle
detikcom - 4 Polisi Australia Bantu Identifikasi Barang Bukti Azahari
Gatra.Com - Pengemudi Mobil Patah Kaki Ditabrak Rusa
Gatra.Com - Carlsson Kecelakaan dalam Reli Australia
Tempointeraktif.com - Polisi Temukan Pabrik Ekstasi dan Shabu Terbesar
Tempointeraktif.com - Depdagri Akan Mendata Ulang Penduduk Poso
detikcom - Eks Mahasiswa: Azahari Dosen Periang & Ngefans MU
detikcom - Keluarga Terpidana Mati Bom Bali Temui Amrozi Cs
detikcom - SBY ke Korsel 18-19 November
detikcom - Pastikan Jenazah Arman, Polisi Lakukan Tes DNA
Tempointeraktif.com - Dana Penanganan Flu Burung 2006 Rp 200 Miliar
detikcom - Kejagung Segera Eksekusi 3 Terpidana Mati Rusuh Poso
detikcom - Polri: Azahari Kena 3 Peluru, Tidak Sempat Tarik Pemicu Bom
Gatra.Com - RI Sampaikan Bela Sungkawa pada Yordania
detikcom - Keluarga Terpidana Mati Bom Bali Nyaris Gagal Temui Amrozi Cs
detikcom - Bolos Kerja, 49 PNS Makassar Bakal Kena Sanksi
Tempointeraktif.com - Pemerintah Tolak Pinjaman Bank Dunia untuk Tangani Flu
detikcom - Cari Amunisi, Polisi Obok-obok Pegunungan di Ponorogo
Tempointeraktif.com - Perebutan Kursi Ketua Komisi Parlemen Alot
detikcom - Misno Pamit Kerja ke Batam
detikcom - Sempat Tertunda, Dephub Akhirnya Bentuk Tim Audit Pesawat
Tempointeraktif.com - Potensi Kehilangan Pajak Naik Jdi Rp 35 tiliun
Gatra.Com - DNA Azahari Tunggu Data Pembanding dari Malaysia
Tempointeraktif.com - Akhir 2005 Bank Sumsel Buka Unit Syariah
detikcom - Seorang Bayi di Bali Diduga Terkena Flu Burung
Gatra.Com - Fraksi Besar Perebutkan Posisi Pimpinan Komisi VI DPR
Tempointeraktif.com - Presiden Minta Kabinet Maksimalkan Pelaksanaan Program
detikcom - Tewasnya Azahari, Asing Hanya Bantu Pemeriksaan Laboratorium
Tempointeraktif.com - LSM Desak Pemerintah Bentuk TPF untuk Poso
detikcom - Golkar Usul SBY Bentuk Koalisi Permanen & Kontrak Politik
detikcom - Olah TKP Selesai, Barang Bukti Azhari Dibawa Ke Polda Jatim
Tempointeraktif.com - Diduga Flu Burung, Bocah 2 Bulan Diisolasi
Gatra.Com - Tiga Puluh Bom di Flamboyan
detikcom - Para Tersangka Bom Bali II akan Dibawa ke Bali
detikcom - Azahari Sering Gelar Rapat Malam
Gatra.Com - Maradona Tolak Peran dalam Timnas Argentina
detikcom - Keluarga Salik Salat Gaib Sabtu
Tempointeraktif.com - Pasien Flu Burung Mutiara Gayatri Diizinkan Pulang
Tempointeraktif.com - Polisi Gerebek Rumah di Kendal
detikcom - Bebas Flu Burung, Mutiara Gayatri Tinggalkan RSPI Sulianti
Tempointeraktif.com - Saksi Ahli Nyatakan Leslie Alami Gangguan Jiwa
detikcom - 'Paradise Now' Angkat Sisi Kemanusiaan Pengebom Bunuh Diri
detikcom - Lampiaskan Kemarahan, Ribuan Warga Yordania Berunjuk Rasa
detikcom - Jadi Target Aksi Teror, Polda Metro Jaya Inventarisir Warga
detikcom - Bahas HIV, SBY Buka Sidang AFPPD Sabtu
detikcom - Malaysia: Ini Keberhasilan bagi RI
Tempointeraktif.com - Keluarga Belum Tentukan Sikap Soal Jenazah Azahari
detikcom - Bomber Bali II, Keluarga Misno Terus-menerus Ditelepon Polisi
Tempointeraktif.com - Azahari Penggemar Manchester United
detikcom - HKTI Rancang Tungku Biji Jarak & Kompor Minyak Jarak
detikcom - SBY Umumkan Hasil Evaluasi Kinerja Menteri Pukul 14.00 WIB
Gatra.Com - Inggris Sepakati Bonus Piala Dunia
detikcom - Cegah Pandemi Flu Burung, RI Dapat Komitmen Hibah US$ 10 Juta
detikcom - Rapat Konsultasi Belum Bahas Kocok Ulang Pimpinan DPR
detikcom - 43 Calo di Samsat Polda Dicokok
detikcom - KPK Panggil Bagir Manan Senin
detikcom - Polri Belum Berencana Pulangkan Jenazah Azahari ke Keluarga
detikcom - KPK Dijadikan Pilot Project Perbaikan SDM Pemerintahan
detikcom - RI Butuh US$ 138,20 Juta Atasi Flu Burung
detikcom - Zaenal Maarif Layangkan Surat Protes ke Ketua MPR
detikcom - RS Polri Bersiap Terima Jenazah Azahari dan Arman
detikcom - Mayat Azahari Lalui 5 Tahap Identifikasi, Kecuali Tes DNA
detikcom - Tak Setuju Kocok Ulang, Cak Ali Usul Wakil Ketua DPR Ditambah
Tempointeraktif.com - Polisi Geledah Toko Milik Penampung Noor Din
detikcom - Menhub akan Proses Kasus Pungli THC ke KPK
detikcom - Kapolri: Tak Ada Lagi Perakit Bom Seahli Azahari
detikcom - Kalla dan Wakil PM Malaysia Datang, Makassar Dijaga Ketat
detikcom - Anif Inapkan Kawanan Noordin, Toko HP-nya Digeledah Polisi
detikcom - Widodo AS: Tes DNA Terhadap Azahari Tak Diperlukan
detikcom - Sebelum SKB Rumah Ibadat Terbit, Depag Temui Wakil Agama
detikcom - Fatal, Jika SBY Tak Berani Rombak Mayoritas Kabinet
Tempointeraktif.com - Mahasiswa Poso Minta Pemerintah Segera Selesaikan Konflik Poso
Tempointeraktif.com - Pendatang di Tanah Abang, Senen, Sawah Besar Pertama Dioperasi
detikcom - MUI: Silakan Keluarga Tersangka Bomber Lakukan Salat Gaib
Tempointeraktif.com - Seorang Anggota Kelompok Azahari Pemuda Stres
detikcom - 'Paradise Now' Terancam Terblokir Masuk Indonesia?
detikcom - Kasus Munir, Polly Bantah Kenal Menantu Hendropriyono
detikcom - Kevin, Bocah 7 Tahun yang Sering Main ke Sarang Azahari
Gatra.Com - ASEAN Perkokoh Kerja Sama Antiterorisme
Tempointeraktif.com - Jenazah Azahari Akan Diserahkan ke Keluarganya
Tempointeraktif.com - Sistem Persinyalan dan Penjualan Tiket di Stasiun Gambir Tak Terganggu
Tempointeraktif.com - Polres Sragen Razia Kendaraan dari Jawa Timur
detikcom - Mahfud MD: Tewasnya Azahari Ciutkan Aksi Terorisme
detikcom - Bagi-bagi Kursi Ketua Komisi & Badan DPR Disetujui
Tempointeraktif.com - Penjara Tempat Istri Noor Din M. Top Dijaga Ketat
Forum Views () Forum Replies ()
Ditemukan Kejanggalan Baru Kucuran Bahana ke KAFL
JAKARTA - Ditemukan bukti baru yang mengungkap adanya kejanggalan dalam pengucuran dana senilai Rp 800 miliar dari PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia Kredit Asia Finance Ltd. (KAFL). Hingga kini, dana pinjaman ke perusahaan milik Agus Anwar dan Hashim S. Djojohadikusumo itu tak tertagih, sehingga negara berpotensi rugi Rp 1,4 triliun.
Berdasarkan dokumen otentik yang diperoleh Koran Tempo, Bahana diketahui pernah menyatakan kepada KAFL bahwa jika Festival Company Inc. dan PT Elok Unggul gagal membayar pinjamannya ke KAFL, maka perusahaan pembiayaan berbasis di Hong Kong itu tidak perlu membayar utangnya ke Bahana, sejumlah dana yang tidak bisa dikembalikan kedua perusahaan itu.
"Kami setuju, jika peminjam (Festival dan Elok) gagal melunasi utangnya kepada Anda, maka jumlah sisa utang yang dipinjam tersebut dapat dikompensasikan dengan sejumlah dana yang sama yang diberikan Bahana (ke KAFL)," begitu bunyi pernyataan dalam dua surat Bahana ke KAFL yang ditandatangani Sudjiono Timan selaku Presiden Direktur Bahana.
Surat pertama bernomor 148 tertanggal 7 Agustus 1996 berkaitan dengan utang KAFL yang kemudian disalurkan ke Elok Unggul. Sedangkan surat kedua bernomor 162 tertanggal 2 September 1996 berkaitan dengan pinjaman KAFL yang disalurkan ke Festival. "Keputusan ini sangat janggal, apalagi tanpa persetujuan komisaris," kata sumber Koran Tempo.
Seperti diketahui, pinjaman ke KAFL merupakan salah satu kasus indikasi korupsi di Bahana yang kini tengah disidangkan di pengadilan. Atas kasus ini, Jaksa telah menuntut hukuman penjara selama 8 tahun terhadap Sudjiono.
KAFL merupakan sebuah perusahaan pembiayaan berbasis di Hong Kong. Berdasarkan memorandum investasi untuk penjaminan PT Primawira Insanpersada milik M.S. Hidayat tertanggal 28 Agustus 1996, KAFL selain dimiliki Agus Anwar (40 persen) juga dimiliki oleh Hashim Djojohadikusumo (50 persen).
Hasil audit akuntan publik Dani Sudarsono pada 2001 menyebutkan bahwa besarnya dana yang telah dikucurkan perusahaan pembiayaan milik pemerintah itu ke KAFL pada 1996 lalu sebesar Rp 796 miliar. Terdiri dari utang rupiah Rp 103 miliar dan utang dolar US$ 71 juta. Namun, tulis laporan itu, setelah memperhitungkan denda dan bunga, total kerugian potensial yang diderita Bahana membengkak jadi Rp 1,4 triliun.
Sebagai kelanjutan pinjaman tersebut, KAFL kemudian menyalurkan dana tersebut ke dua perusahaan. Sekitar US$ 40 juta ke Festival milik Prajogo Pangestu, dan sekitar US$ 30 juta sisanya ke PT Elok Unggul milik M.S. Hidayat (lihat "Kucuran Dana Bahana ke Kredit Asia").
Festival membutuhkan dana tersebut untuk membeli saham Asian Petroleum Corporation (Filipina) yang saat itu hendak mengakuisisi perusahaan telekomunikasi Philippine Global Communication (PhilCom).
Rencananya, saham APC tersebut - setelah harganya melambung - akan dijual kembali dan diharapkan hasilnya akan menjadi sumber pembayaran utang Festival ke KAFL. Namun, akibat krisis harga saham berguguran. Sehingga Festival dan KAFL akhirnya tak mampu melunasi utangnya ke Bahana.
Disetujui pemegang saham
Ketika dihubungi, Sudjiono menolak menjawab dan langsung mematikan telepon genggamnya. Namun, Amir Syamsuddin selaku kuasa hukumnya membantah adanya pelanggaran dalam pemberian dispensasi (set off) atas utang KAFL tersebut.
Menurut Amir, kebijakan itu diambil Direksi Bahana setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham. "Semua telah mendapat persetujuan pemegang saham. Anda harus tahu bahwa kekuasaan tertinggi di sebuah perusahaan terletak pada pemegang saham," ujarnya ketika dihubungi Jumat lalu, meski diakuinya bahwa persetujuan itu berupa persetujuan global tanpa merinci satu persatu piutang Bahana.
Ketika ditanyakan soal adanya tudingan bahwa penyaluran dana Bahana ke KAFL dilakukan tanpa adanya perjanjian kredit, Amir tidak bersedia menjawabnya. "Pertanyaan itu cerita lama. Sudahlah kenapa suka sekali mengungkit-ungkit cerita itu," ungkapnya.
Secara terpisah, Direktur Pelaksana Bahana Boyke E.W. Mukijat juga enggan berkomentar banyak soal kasus ini. Alasannya, tidak ingin melakukan intervensi terhadap proses pengadilan yang tengah berlangsung. Meski demikian, diakuinya bahwa semua pinjaman Bahana ke pihak asing bermasalah. "Yang kami inginkan hanyalah bagaimana uang itu bisa kembali," katanya. metta dharmasaputra/setri yasra
Pinjaman Berisiko Tinggi
Berbagai catatan telah diungkap kantor akuntan publik Dani Sudarsono atas kucuran pinjaman Bahana senilai Rp 800 miliar ke Kredit Asia Finance Limited. Dalam laporan yang dikeluarkan pada 2001 lalu itu, disebutkan bahwa pemberian pinjaman ini melanggar azas kehati-hatian dan berisiko tinggi.
Pasalnya, pemberian pinjaman Bahana ternyata mencapai 79,4 persen dari seluruh pendanaan yang diterima KAFL. Kondisi permodalannya pun tergolong parah. Lihat saja, rasio kecukupan modalnya hanya sebesar 1,5 persen. Selain itu, tingkat produktivitasnya pun amat rendah, yang tercermin dari rasio laba dibandingkan aset perusahaan (ROA) yang hanya 1,23 persen.
Fakta lainnya, berdasarkan laporan keuangan 1994 - setahun sebelum pinjaman Bahana dikucurkan - perusahaan berbasis di Hong Kong ini ternyata rugi sebesar HK$ 2,4 juta. Dan parahnya lagi, arus kas operasinya pun minus HK$ 32 juta pada 1994, serta minus HK$ 1,5 juta pada 1995.
Melihat kondisi itu, kantor akuntan itu menyatakan bahwa persetujuan pinjaman yang diberikan oleh Komite Investasi Bahana, yaitu Sudjiono Timan, Hario Suprobo, Witjaksana A. Sidharta, dan Hadi Rusli, tidak memiliki pertimbangan yang jelas. Apalagi, tuturnya, fasilitas pinjaman itu diberikan tanpa adanya jaminan. metta
Berita Acak dari arsip :

