By Linda Sieg
"Look! It's huge!" shouts a muddy but beaming Han Myung-Ja, 52, plunging her hoe into the soil to unearth a giant ginseng root.
New Zealand authorities delayed plans to lift no-go zones in quake-hit Christchurch Friday after major aftershocks again rattled the country's second largest city.
Asia Pacific News
- Japan PM has edge in party race but outcome unclear
- South Koreans pay homage to health-giving herb
- NZ quake city no-go zones remain after more aftershocks
- Japan artist brings manga controversy to Versailles
- 'Salesman in chief' Schwarzenegger on Asia trade trip
- Pastor calls off Koran burning, claims deal over NY mosque
- Vettori named New Zealand player of the year
- DetikSport - Duscher Semakin Dekat ke MU | 3 November 2006
- Kompas - Rama Pratama: Saya Tidak Terlibat | 19 March 2009
- Gatra.Com - Tutut: PKPB Menang, Perekonomian Bangsa Meningkat | 23 March 2004
- Kompas - Seabad Kurang Setahun untuk Rusia | 31 March 2009
Other News on Kamis, 29 Juli 2004
KoranTempo - Pemilih pada Pemilu Putaran Kedua Bertambah 5 Juta
KoranTempo - Impor Udang Dibatasi Hanya Sampai Desember
KoranTempo - Proyek Lain yang Mendapat Dana Segar
Gatra.Com - Dari Dua Kecamatan, Ditemukan 213 Pemakai Narkoba
KoranTempo - Di Beijing Mereka Terdampar
KoranTempo - Polisi Perbaiki Berkas Penyidikan Ba'asyir
KoranTempo - Pemerintah DKI Bangun Pusat Pengkajian Kerukunan Umat Beragama
KoranTempo - Anggaran Operasional SMP Terbuka Rp 90 Miliar
KoranTempo - SD Percontohan Dituding Selewengkan Dana
KoranTempo - Setelah Laporan Komisi 9/11 Diumumkan
KoranTempo - Tim Penyidik Bea Cukai Periksa Phoenix Terkait Bocornya Gula Ilegal
Gatra.Com - Tenaga Medis Indonesia Harus Standar Internasional
KoranTempo - Rupiah Kembali Anjlok, Indeks Saham Masih Stabil
KoranTempo - Rumah Pemilik Bank Aspac Kosong
KoranTempo - Pencemaran Sungai Batangbungo Timbulkan Gatal-gatal
KoranTempo - Klinsmann Hadapi Sandungan Pertama
KoranTempo - Polisi Juga Diminta Periksa Kapolwil Banyumas
KoranTempo - Mahasiswa Ambon Unjuk Rasa Antikorupsi
Gatra.Com - Pilot Berhasil Desain Gitar Lipat
Gatra.Com - Ronaldo akan Nikahi Pacar Barunya
Gatra.Com - Lima LSM Serahkan Data ke Mabes Polri
KoranTempo - 'Mal Biru' yang Terus Melaju
KoranTempo - Pemerintah Didesak Tak Jamin Pasokan LNG Tangguh
KoranTempo - Ratusan Yahudi Tinggalkan Prancis
KoranTempo - Kasus VCD Banjarnegara
Gatra.Com - Hujan Badai di Deli Serdang, Puluhan Rumah Berantakan
KoranTempo - Tim Penyidik Bea dan Cukai Periksa Phoenix
KoranTempo - Puluhan Truk Penguruk Pantai Ditemukan di Pantai Dadap
KoranTempo - "Indonesia Terancam Deindustrialisasi"
KoranTempo - 40 Ton Kertas Milik Indah Kiat Raib
KoranTempo - Laba Bersih Danamon dan BCA Meningkat
KoranTempo - Pengungsi Korea Utara Adalah Tanggung Jawab Bersama
KoranTempo - Menggunakan Mesin Cuci pun Mesti Kursus
KoranTempo - Ketua MA: Kebebasan Pers Harus Ada di Negara Demokrasi
KoranTempo - Mahasiswa Minta DPR Tak Bahas RUU TNI
KoranTempo - Mahasiswa Ambon Unjukrasa Antikorupsi
KoranTempo - Komnas HAM Bentuk Tim ke Poso
KoranTempo - Pemerintah Diminta Usut Indikasi Korupsi Proyek Karaha
KoranTempo - Semarang Ambles Karena Pengeboran Sumur Bawah Tanah
KoranTempo - Rekanan Perhutani Didakwa Korupsi Rp 1,97 Miliar
Gatra.Com - BKSDA akan Sita Satwa Dilindungi dari Masyarakat
KoranTempo - BI : Tidak Ada Kelonggaran BMPK dalam Pembelian Bank Permata
KoranTempo - Rencana Situ Buatan di Kampus Unisma Ditolak
KoranTempo - Penggelembungan Anggaran Jadi Modus Korupsi DPRD
KoranTempo - Usut Dana Kampanye Fiktif
Gatra.Com - Perlu, Kerja Sama Kejaksaan Agung-PPATK
KoranTempo - Hidup Saya Sudah Enak, Materi Cukup
KoranTempo - Sebelas Pengutang Kakap BPPN Tetap Diserahkan ke Polisi
Gatra.Com - Atlet Yunani Terbanyak Sepanjang Sejarah
Gatra.Com - Simon dan Garfunkel Gelar Konser Gratis
Gatra.Com - Menpan: Reformasi Birokrasi, Pekerjaan Sulit
KoranTempo - Uni Afrika Kirim Pasukan ke Sudan
Gatra.Com - Peyelundup 1,13 Kg Heroin akan Divonis 10 Agustus
KoranTempo - Komnas HAM Bentuk Tim untuk Poso
KoranTempo - Artis Sinetron Faisal Dihukum 5 Tahun Penjara
Gatra.Com - Kapolri Mutasikan Kapolwil Banyumas
KoranTempo - Komisaris Danareksa Akan Ditambah
KoranTempo - Ketua Tim Sukses SBY-Jusuf Kalla di Jember Tewas Ditusuk
Gatra.Com - Eggi Sudjana: Periksa Direksi BII
KoranTempo - KAP Eddy Pianto Keberatan PwC Ajukan Banding
KoranTempo - Akbar Kritik Yudhoyono-Kalla Soal Koalisi
Gatra.Com - Bea Cukai Belawan Loloskan 150 Truk Bekas/Bulan
KoranTempo - Kewenangan Komisi Penyiaran Dipangkas
Gatra.Com - F1 Powerboat di Indonesia Dibatalkan
KoranTempo - Malaysia Diminta Bantu Biayai Pemulangan TKI Ilegal
Gatra.Com - Masyarakat Bisa Gunakan Gegana dan Anjing Pelacak, Gratis
KoranTempo - MSF Keluar Afghanistan
KoranTempo - Orientalisme di Abu Ghuraib
Gatra.Com - Belanda Angkat Dua Pelatih Baru
Gatra.Com - Remy Sylado: Bahasa Televisi Harus Luwes
KoranTempo - “Harga Saham KPC Terbuka untuk Negosiasi”
KoranTempo - Lahan Jakarta New Port Diklaim Milik Pelindo
Gatra.Com - Ada Capres Didukung Amerika
KoranTempo - Capres Harus Laporkan Dana Kampanye Putaran Kedua
KoranTempo - Menggapai Mimpi di Negeri Kapitalis
KoranTempo - Presiden Diminta Tunjuk Penjabat Gubernur Irian Jaya Tengah
KoranTempo - Demi Jagonya, Sriyanto Jalan Kaki Solo-Bone
KoranTempo - Kadin Minta Pajak Bea Masuk Permen Dinaikkan
Gatra.Com - Hidayat: PKS Tak akan Golput
KoranTempo - Polda Sulawesi Tenggara Temukan Ribuan Jati Ilegal di Bawah Laut
KoranTempo - RUU Investasi Janjikan Insentif Investor
KoranTempo - Bajaj Ramah Lingkungan Segera Ditawarkan
Forum Views () Forum Replies ()
Sugesti Batu Sakti Ponari
Matahari belum sepenuhnya menyinari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ketika Maschan Incok Sunarya beringsut dari penginapan. Penyakit diabetes yang diderita selama puluhan tahun mengakibatkan kaki kakek berusia 69 tahun itu bengkak.
Senin pagi lalu, setelah menginap tiga hari, Sunarya berharap mendapat giliran beroleh tuah mujarab dari Muhammad Ponari. Bocah yang belum genap berusia 10 tahun ini diyakini bisa mengobati berbagai penyakit. Sunarya harus mengantre bersama 10.000 orang lainnya yang juga memburu asa.
"Mudah-mudahan Ponari membawa kesembuhan," kata Sunarya, sambil menenteng botol air yang diyakini sebagai media pengobatan, setelah sebelumnya dicelupi batu sebesar buah sawo, milik Ponari. Sunarya dan istrinya, yang datang dari Bekasi, Jawa Barat, berharap penyakitnya disembuhkan Ponari, si dukun cilik.
Sunarya tertarik datang berobat ke Jombang setelah menonton berita di televisi tentang "kesaktian" Ponari. Ribuan orang mengantre setiap hari untuk mendapatkan kesembuhan dari bocah ini. Panitia yang berjumlah 500 personel, terdiri dari aparat Polsek Megaluk, Polres Jombang, koramil, satpol PP, serta aparat desa sempat, kewalahan mengatur jalannya pengobatan.
Berdasarkan catatan panitia, setiap hari terdaftar 10.000 pasien. Empat orang meninggal ketika menungu antrean. Imbauan panitia agar pengunjung tertib dan mengantre lewat pengeras suara tak henti-hentinya menggema. Namun pengunjung terus merangsek. Akhirnya panitia mengatur lewat kertas atau kupon antrean. Setiap hari, 10.000 kupon habis terbagi.
Ponari buka praktek tiap hari, kecuali Kamis dan Jumat. Proses pengobatan yang dilakukan Ponari terbilang sederhana. Sekali prosesi, sebanyak 300 pasien diminta memasuki halaman rumah dan duduk di kursi yang telah disiapkan. Setiap pasien diminta membawa gelas berisi air minum.
Selanjutnya Ponari, digendong orangtuanya atau kerabatnya, mendatangi pasiennya yang membawa gelas berisi air. Tanpa melihat ke pasien, tangan kanan Ponari yang memegang "batu sakti" sebesar buah sawo dicelupkan ke dalam gelas-gelas berisi air putih satu demi satu. Sementara itu, tangan kiri Ponari asyik bermain game di ponsel pemberian salah satu pasiennya.
"Pada saat Ponari mencelupkan batu ke air, pasien diminta berdoa dalam hati untuk kesembuhan penyakitnya," kata Mbah Senen, kakek Ponari. Munculnya Ponari, bocah kelas III SD, sebagai dukun tiban itu memang mengejutkan. Dalam waktu kurang dari sebulan, ia mampu menyedot perhatian ribuan orang.
Ia kali pertama praktek pada 15 Desember lalu. Pasiennya sebatas warga terdekat. Jumlahnya hanya lima sampai 10 orang per hari. Sepekan kemudian, jumlah pasiennya mencapai 100 hingga 200 orang. Selama tiga pekan belakangan ini, jumlah pasien Ponari melimpah hingga 10.000 sehari.
Melonjaknya pasien yang ingin berobat ke Ponari membuat kondisi Dusun Kedungsari ikut berubah drastis. Dusun terpencil yang terletak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Jombang itu kini sangat ramai. Di sepanjang jalan sekitar 1 kilometer dari tempat pengobatan berdiri warung-warung dadakan. Para pedagang mencoba mencari untung dengan membuka tenda-tenda seadanya sebagai tempat berjualan.
Tidak hanya itu. Gang masuk menuju tempat pengobatan kini berubah menjadi mulus. Paving block tertata rapi sepanjang 100 meter. Padahal, sebelumnya, jalan setapak itu becek. "Semua ini karena berkah dari Ponari," kata Kepala Dusun Kadungsari, Muhlison, sambil tersenyum. Biaya perbaikan jalan didapat dari dana pasien Ponari.
Dari jasa pengobatan itu, Ponari bisa mendapat uang Rp 5 juga hingga Rp 10 juta sehari. Bahkan, menurut Muhlison, seandainya uang sumbangan dari pasien tidak dibatasi, bisa jadi uang yang dikumpulkan bisa lebih dari itu. "Ponari minta agar sumbangan tidak lebih dari Rp 10.000 per orang," katanya.
Sosok bocah kelahiran 6 Juli 1999 itu tidaklah istimewa. Perawakan anak semata wayang pasangan Kasim, 35 tahun, dan Mukarromah, 28 tahun, itu lebih kecil dibandingkan dengan teman sebayanya. Ia tergolong bocah pendiam dan penakut. "Kalau ada temannya mengganggu, Ponari malah lebih pergi menjauh," kata Mbah Senen.
Teman sekolah dan teman sepermainan Ponari menyebut si dukun cilik itu suka menyendiri. "Dia sukanya bermain monopoli," kata Rafli Setiawan, kawan akrab Ponari. Di dalam kelas, Ponari duduk sendiri di bangku belakang paling pojok.
Dukun kecil itu tumbuh dalam keluarga sederhanya. Ayahnya, Kasim, tak lulus sekolah dasar. Sedangkan Mukarromah, ibunya, sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. "Rata-rata penghasilan kami Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per hari," kata Kasim. Penghasilan yang jauh dari cukup untuk ongkos hidup sehari-hari dan biaya sekolah Ponari.
Keluarga ini menempati rumah mungil berukuran 5 x 7 meter, berdinding bambu yang sebagian ditembok. Satu-satunya barang berharga di dalam rumah adalah televisi usang 14 inci. Cerita keluarga ini berubah 180 derajat ketika pada suatu sore, tepatnya 12 Desember silam, Ponari bersama empat temannya bermain air hujan.
Konon, pada saat Ponari asyik bermain di tengah lapangan, tiba-tiba petir menyambar. Bersamaan dengan itu, kata Kasim, sebuah batu warna cokelat sebesar buah sawo menerpa kepala Ponari. Ia kesakitan. Karena tertarik oleh benda yang sudah menimpuknya, Ponari membawa pulang batu itu.
Batu itu sempat dibuang oleh ibunya ke kebun belakang rumah. Anehnya, masih menurut Kasim, boleh percaya boleh tidak, batu itu kembali berada di tempat semula. Kemudian giliran Kasim membuangnya. "Eh, batu itu kembali lagi," tutur Kasim.
Di tengah peristiwa aneh itu, Ponari tiba-tiba berujar bahwa batu itu bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Muawamah, 56 tahun, tetangga rumah Ponari, mengaku menjadi orang pertama yang merasakan tuahnya. "Beberapa jam setelah pengobatan, sesak napas dan perdarahan saya hilang," kata Muawamah.
Cerita sukses Ponari mengobati Muawamah sampai juga ke telinga Djamil. Pensiunan guru yang juga tetangga Ponari ini tertarik untuk mengobati putrinya, Luluk Jamilah, 35 tahun, yang 10 tahun terakhir menderita sakit jiwa. Hasilnya lumayan. Luluk sudah bisa diajak mengobrol. Ia pun sudah mau tinggal di rumah, tidak lagi di gubuk kecil di belakang rumah yang dibangun khusus untuk Luluk. "Kesembuhannya mencapai 50%," kata Djamil.
Sejak itu, "kesaktian" Ponari beserta batunya jadi buah bibir. Hanya saja, hingga kini belum ada penelitian, batu jenis apa yang ada di tangan Ponari. Belum juga terbukti secara ilmiah, apakah batu itu memang bisa mengobati berbagai penyakit?
Dokter Endang Warsiki, spesialis ilmu kedokteran jiwa dari Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, memastikan bahwa pengobatan ala Ponari tidak ada penjelasan medisnya. "Itu bersifat irasional," katanya. Kalaupun ada pasien yang sembuh, menurut dia, bisa jadi karena kehendak Tuhan. "Bisa jadi juga karena sugesti si pasien," ujar Dokter Endang.
Fenomena berobat ke dukun cilik semacam Ponari itu, kata Endang, seharusnya menjadi tamparan bagi pemerintah yang tak bisa menyediakan pengobatan murah. "Sehingga banyak orang yang mencari cara di luar medis," ujarnya. Pendapat senada diungkapkan Hawa`in Mahrus, sosiolog dari Unair.
Menurut dia, orang yang berobat ke Ponari itu kemungkinan berawal dari rasa bingung karena tidak mampu berobat ke rumah sakit. "Lalu mereka mencoba mencari alternatif pengobatan lain yang lebih murah," kata Hawa`in. Ini terlihat dari kelas sosial pasien Ponari yang kebanyakan masyarakat bawah.
Mahalnya ongkos berobat ke rumah sakit, menurut Hawa`in, juga membuat banyak orang menjadi tidak rasional dan suka sekali mengkhayal. "Lantas larinya ke magic," ujarnya. Pengobatan yang dilakukan Ponari pun, kata Hawa`in, berangkat dari khayalan belaka. "Kalau toh memang sembuh, itu hanya sugesti si pasein. Merasa yakin sembuh kalau minum air dari Ponari," ia menegaskan.
Bila orang stres dan bingung, Hawa`in memaparkan, maka akan timbul pergolakan di dalam tubuh. Aktivitas hormon-hormon meningkat. Pergerakannya tidak stabil seperti biasanya. Nah, ketika datang ke Ponari, lalu minum air yang dicelupi batu, bisa jadi orang itu menjadi tenang.
Stresnya hilang karena adanya kepercayaan akan sembuh. Kalaupun ada perubahan, mungkin karena hormon kembali bekerja normal. "Padahal, sebenarnya penyakitnya bisa jadi tetap ada," katanya. Analisis Hawa`in itu bisa jadi benar.
Hingga saat ini, belum terbukti ada pasien Ponari yang sehat total. Beberapa penderita stroke, misalnya, memang mengaku mengalami kemajuan sesaat setelah minum dan mengoleskan air yang dicelupi batu Ponari. Namun semuanya mengaku masih butuh pengobatan lanjutan.
Karena itulah, Hawa`in memperkirakan, fenomena dukun cilik Ponari tidak bakal berlangsung lama. Bahkan fakta terakhir membuktikan, Selasa lalu, Ponari jatuh sakit karena kelelahan. Ia sampai harus dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Jombang.
Berita Acak dari arsip :

