At least 19 people were killed and 45 wounded when a suicide bomber rammed his explosives-laden car into a police station in northwest Pakistan on Monday, destroying the building, police said.
By Mustansar Baluch
New Zealand extended a state of emergency in earthquake-hit Christchurch Monday as the army enforced a no-go zone amid reports of looting in the rubble-strewn heart of the city.
Asia Pacific News
- Suicide car bomber kills 19 in NW Pakistan: police
- Nineteen killed in suicide bombing in Pakistan
- Emergency extended in quake-hit New Zealand city
- Malaysia, Indonesia ministers meet to soothe tensions
- China's 'miracle' Shenzhen marks 30 years
- Australia poised for new government
- Indonesia's lax gun control a boon for militants - report
- Tempointeraktif.com - Kebakaran Hanguskan Kios dan Rumah di Pasar Minggu | 22 March 2007
- Kompas - Konsumen Masih Butuh Kamera dan Musik | 17 November 2008
- Gatra.Com - Kampanye Hamzah-Agum Butuh Rp 500 Miliar | 19 May 2004
- Tahun Depan, Olimpiade Musim Dingin Geser "Academy Awards" - 19/04/2006, 12:11 WIB - KOMPAS Cyber Media - Hiburan | 19 April 2006
Other News on Jumat, 15 Pebruari 2008
Tempointeraktif.com - Kapal Kontainer Terjebak di Pulau Bawean
detikcom - Siasati Tekanan Ekonomi, Herman Ubah Gerobak Motor Jadi Angkot
Gatra.Com - Irawady Berniat Jebak Rekanan KY
Gatra.Com - Pelé Berpisah dari Istrinya
detikcom - Mantan Senator Partai Republik Dukung Barack Obama
detikcom - Penembak Brutal di Kampus Northern Illinois Tewas Bunuh Diri
detikcom - Truk Trailer Timpa L 300 di Jalan Layang Tol Kamal
Republika - Dera Nurhayati Tiada Henti
Republika - George Ganjal Kidd ke Maverick
Republika - Paling Ekonomis dan Praktis
Gatra.Com - PM Australia Kunjungi di Timor Leste
Gatra.Com - Capt Pilot Marwoto Tak Ditahan
DetikSport - Spurs dan Bolton Buka Peluang
detikcom - Senjata M-16 dari AS Harusnya Dikirim ke Irak, Bukan ke RI
Tempointeraktif.com - Asosiasi Gubernur Dukung Calon Independen
detikcom - Imigrasi Bandung Diduga Gelapkan PNBP Rp 3,1 Miliar
Republika - Liga Primer Maju Terus dengan Rencana Ekspansi
detikcom - PM Australia Tiba di Timor Leste untuk Tunjukkan Dukungan
detikcom - Semua Pihak Tandatangani Aliran Dana BI Harus Jadi Tersangka
Gatra.Com - Status KPPU Akan Diperjelas
Tempointeraktif.com - Kejaksaan Sesalkan Pengadilan Terima PK Kedua Amrozi
detikcom - Golkar Bela Kadernya Soal BI
detikcom - Soleh Salahudin Berpeluang Lolos Kasus Suap Monsanto
Republika - 1.400 Wartawan Hadiri Jumpa Pers Putin
Republika - Tak Perlu Ragu Investasi Properti Tahun Ini
Gatra.Com - Mariah Carey Rilis E=MC2 April 2008
Tempointeraktif.com - PSSI Tetap Gelar Liga Super
Tempointeraktif.com - Oposisi Pakistan Cemaskan Kecurangan Pemilu
detikcom - Jalur Pantura Jateng Bagian Timur Macet 20 KM
Republika - Antam Didorong Beli Saham Freeport
DetikSport - Sengit di Bawah Madrid-Barca
detikcom - Dibakar Hidup-hidup, Bayi 7 Bulan Akhirnya Tewas
Republika - Eto'o Pilih Drogba, Lupakan Ronaldinho
DetikSport - Awas Ludahmu, Kun
Republika - Menkumham Lepas Tangan
Gatra.Com - Tuntutan Terhadap Irawady Dibacakan Jumat
Republika - SD Juara Bagi Anak Dhuafa
detikcom - Penembak Brutal Chicago Terkuak
detikcom - Sudradjat Djiwandono Diperiksa KPK Lagi
detikcom - Gubernur Se-Indonesia Dukung Calon Independen dalam Pilkada
detikcom - Penembakan Brutal di Chicago, 18 Siswa Tertembak
Gatra.Com - Badai Nicholas Pengaruhi Perairan Indonesia
detikcom - PD: KPK Bikin Rugi Negara 1 Triliun dalam Kasus BI
Tempointeraktif.com - 113 Saluran Air di Tangerang Rusak
detikcom - Daftar Cagub Jateng ke PDIP, Sumaryoto Siapkan '3 M'
Republika - Ikadi Gelar Temu Dai Se-Jabotabek
detikcom - ITC Mangga Dua Mulai Perkuat Dinding Parkir Sesuai P2B
DetikSport - Perang Posisi Dua
Tempointeraktif.com - Aksi Penembakan di Northern University, Belasan Siswa Luka-luka
Republika - Memindahkan KPR ke Bank Lain
DetikSport - Ketua Panpel Persik Mengundurkan Diri
Republika - Pejabat Sumsel Ketar-ketir
DetikSport - Trio Suns Tenggelamkan Nowitzki
Republika - MU, Chelsea, Arsenal Masuk Lima Besar Klub Terkaya
Republika - Investor Diharap Terjun ke Sektor Pertanian
Tempointeraktif.com - Bursa Efek Indonesia akan Beri Sanksi JP Morgan
Gatra.Com - Pemberian Bantuan Tunai Diperluas
detikcom - Agung Tak Mau Buru-buru Sikapi Anggota DPR Terlibat Dana BI
detikcom - Kewenangannya Digugat di MK, KPK Jalan Terus Usut Kasus BI
Republika - Dian Piesesha Kesal
Republika - Manu Luar Biasa
DetikSport - Hari Ketiga Milik Kovalainen
Tempointeraktif.com - Imigrasi Bandung Diduga Gelapkan Dana PNPB
Tempointeraktif.com - Pertumbuhan Ekonomi Tahun Lalu 6,32 Persen
DetikSport - Garuda Menyerah di Tangan Aspac
Gatra.Com - Polres Sleman Akan Gelar Perkara Tewasnya Lambang
detikcom - Nicholas Akhir Pekan Kian Kencang
DetikSport - Belum Ada Kontrak Baru untuk Donadoni
DetikSport - Mascherano, Liverpool atau Barcelona?
Tempointeraktif.com - Sepanjang Hari Jabodetabek Berpeluang Hujan
DetikSport - Tardelli Jadi Asisten Trapattoni
Republika - LEMBUR FIKTIF DI DEPBUDPAR
Republika - Pemprov DKI Ajukan Percepatan Pencairan Dana Gakin
Republika - Pemerintah Harus Periksa WNI Jadi Milisi Malaysia
detikcom - Penangguhan Penahanan Pilot Marwoto Dijamin Keluarga
Republika - Berharap Torres
detikcom - Pendukung Terkemuka Hillary Kini Dukung Obama
Tempointeraktif.com - Andreas Kodijat Terdaftar di IDI Kota Bandung
Gatra.Com - Fauzi: Perbaikan Jalan Prioritas Utama
Republika - Curahan Hati Siti Nurhaliza
detikcom - Hipnotis Korban, Copet Ngaku Karyawan Indosiar Digebuki Massa
Republika - Bank Fokus Perumahan Masih Sangat Dibutuhkan
Republika - Kadar Hujan
detikcom - 259 Pegawai Depkum Kena Sanksi, 7 Orang Dipecat
Republika - Lima Ton Ikan Mati Mendadak
DetikSport - Fabregas Ingin Makin Lama di Arsenal
Republika - Garuda Akhiri Catatan tak Terkalahkan
Tempointeraktif.com - Bekasi Tertibkan Kendaraan Berat
Republika - Prototip Islamic Centre di Indonesia
Republika - Banjir Karawang Terus Meluas
detikcom - Belum Sepekan, Ada 3 Tabrakan Beruntun di Terowongan JORR
Gatra.Com - Casillas dan Raúl Seumur Hidup untuk Madrid
Republika - 'Serangan Fajar' A la Pakistan
Republika - Obama Anggarkan 210 Miliar Dolar untuk Perekonomian
Gatra.Com - Orang Kita Sulit Mengatakan "Tidak"
Tempointeraktif.com - Pantau Kargo Lewat SMS
Tempointeraktif.com - Bendahara YPPI Tinggalkan KPK
Tempointeraktif.com - Angkatan Darat Malaysia Bantah Rekrut Warga Indonesia
DetikSport - Hujan Bukan Halangan tapi Tantangan
detikcom - Mau Jadi Hakim Agung Harus ke MA
detikcom - Penerangan di Terowongan JORR Dinilai Masih Minim
DetikSport - Casillas & Raul Selamanya di Madrid
Gatra.Com - PM Australia Kunjungi di Timor Leste
Republika - Pemilu Malaysia 8 Maret
detikcom - Bawa Kabur Uang, Eh.. Tertangkap Gara-gara Masuk Film
Republika - Hadapi AS Roma, Metzelder Absen
Republika - 8 Perusahaan Minati Pipa Gas Cirebon-Muara Bekasi
Republika - Pejabat BI Ditahan
Republika - Yatim
detikcom - Wartawan Diuber-uber Orang Gila di Kantor Depkum Jl Rasuna
Republika - Israel Bantah Terlibat Pembunuhan Mughniyeh
detikcom - Deplu: 10 WNI Ada di Northern Illinois Saat Penembakan
Tempointeraktif.com - Koalisi LSM Protes Keterlambatan Seleksi Lembaga Perlindungan Saksi
Gatra.Com - Orang Kita Sulit Mengatakan "Tidak"
detikcom - Menneg LH Sidak Grand Indonesia
detikcom - Jasa Marga Harus Bikin Terowongan JORR Lebih Terang
detikcom - Binaragawan Terkecil di Dunia
detikcom - Hari Valentine, Hari Pembantaian
detikcom - Tanpa Kata, Pria Kurus Itu Menembak Membabi-buta di NIU
Republika - KPU Jabar Tetapkan Tiga Kandidat
Republika - Daihatsu Targetkan Gran Max Sumbang 30 Persen Penjualan
Tempointeraktif.com - Pencalonan Hakim Agung Harus Lewat MA
Gatra.Com - Tuntutan Terhadap Irawady Dibacakan Jumat
Republika - 'Kandidat Gubernur BI Jangan Figur Bermasalah'
Republika - Info ETOS Agung Sibela:
Tempointeraktif.com - Presiden Akan Resmikan Musyarawah Nasional Gubernur Se-Indonesia
Republika - Fortifikasi Harapan Si Miskin Meraih Gizi
Gatra.Com - Badai Nicholas Pengaruhi Perairan Indonesia
Gatra.Com - Menhan AS Akan Kunjungi Indonesia
DetikSport - Aksi Mobil Cepat dari Pagi Sampai Sore
detikcom - Komnas Prihatin Kasus Bersihar, Usul Pasal Pencemaran Dihapus
Republika - Menuntut Ilmu
Republika - BNI Syariah Bandung fokus pada Funding
DetikSport - Irit Tenaga Demi Eropa
Tempointeraktif.com - Kartu Kuota BBM Tunggu Restu DPR
Republika - LPEI Bentuk Divisi Syariah
Republika - Mozaik Petani Telang Sari
Republika - Presiden Pegang 21 Nama Calon Anggota LPSK
Republika - Dewan Hapus Anggaran Perbaikan Jalan Rusak
Republika - Dephut: 50 Persen HPH Berkinerja Buruk
Gatra.Com - Fauzi: Perbaikan Jalan Prioritas Utama
Republika - Amphuri Minta Garuda Batalkan Kenaikan Tarif Umrah
Gatra.Com - Korut Tolak Lagu Kebangsaan Korsel
Republika - Penafsirannya Sangat Rasional
Republika - Pemkot Kaji Ulang Proyek Tol Kunciran-Bandara
detikcom - Rayakan HUT DKI, Foke & 3 Eks Gubernur Rebutan Rp 2 Miliar
Tempointeraktif.com - Uji Kepatutan dan Kelayakan Calon Direksi PLN Awal April
detikcom - Terjerat Kemiskinan, Sopir Metro Mini Nyambi Jualan Ganja
Gatra.Com - WNI di Jepang Didata Ulang
detikcom - Rentetan Penembakan di Lembaga Pendidikan di Dunia
detikcom - Bayi Tewas Ditendang di Tempat Penitipan Anak
detikcom - Setneg Serahkan 14 Calon Anggota LPSK ke DPR Senin Depan
detikcom - UU Grasi Bikin Eksekusi Runyam
detikcom - Batas Presiden Serahkan 3 Calon Gubernur BI ke DPR 17 Februari
Republika - Setelah Seperempat Abad...
Gatra.Com - Pelé Berpisah dari Istrinya
Republika - Antara Masjid Al-Azhar dan Tafsir Al-Azhar
DetikSport - FA Dulu, Baru Champions
Republika - Menjadi Muslimah Idaman
Gatra.Com - Bayi Kembar Siam di Surabaya Meninggal
Gatra.Com - Monica Seles Pensiun
detikcom - Umat Yahudi Tidak Merayakan Hari Valentine
Republika - Tegas pada Malaysia
Tempointeraktif.com - Arroyo Didemo, Manila Tegang
detikcom - Pemprov DKI Serahkan Draf APBD Rp 20,59 T ke Depdagri Senin
detikcom - KPK: Aulia Dicekal Demi Penyidikan
Republika - Ardiles Kritik Liga Inggris
Republika - Seabad Takdir
detikcom - Mengenal Askar Wataniah, Benteng Kedua Pertahanan Malaysia
Tempointeraktif.com - Agus Martowardojo dan Erry Firmansyah Disebut-sebut Kandidat Kuat
Republika - Target Pertama KY Dapatkan Enam Hakim Agung
detikcom - APBD DKI Dipangkas Lagi, PNS Batal Naik Gaji Tahun Ini
Republika - Cetak Ribuan Hafiz Quran
Republika - Warga Protes Spanduk Kandidat
detikcom - Siswa SMK 3 Pekanbaru Kesurupan Saat Pengajian
Republika - Theme Song dalam Kampanye Mereka
Republika - Penerimaan Pajak Ditargetkan Naik Rp 150 Miliar
detikcom - Penahanan Pilot Garuda Marwoto Ditangguhkan
detikcom - 1 Korban Penembakan Universitas Illinois Dilaporkan Tewas
detikcom - Deplu Imbau Mahasiswa RI di AS Berhati-hati
detikcom - Pasukan Filipina Siaga Penuh Jelang Demo Massal Anti-Arroyo
detikcom - Trik Mengendarai Saat Memasuki Terowongan JORR
detikcom - Jabodetabek Masih Diguyur Hujan, Waspada Angin Kencang
Tempointeraktif.com - Badan Kehormatan Apresiasi Pencekalan KPK
Republika - Ronaldo Terancam Pensiun Dini
Republika - PENYAKIT BURUNG WALET
DetikSport - Rossi Butuh Waktu Adaptasi Ban
detikcom - Jasa Marga Bantah Penerangan Terowongan JORR Minim
detikcom - Jaksa Agung Izinkan Aparatnya Diperiksa
Republika - 'TV Harus Mendidik'
detikcom - Pasukan Australia Akan Terus Berada di Timor Leste
detikcom - Pers Malaysia Ternyata Lebih Bombastis
Republika - Ratusan Proposal Dana Hibah Diduga Fiktif
Republika - 328 TKI di Malaysia Diancam Hukuman Mati
detikcom - Korban Tewas di Northern Illinois 5 Orang, Termasuk Si Penembak
Republika - The Lavande Kerja Sama dengan Granito
Republika - Anggaran Pendidikan di Depag Hanya 7 Persen
detikcom - Timor Leste Enggan Mahasiswanya Dianggap Asing di Indonesia
detikcom - Lahan Sengketa PLTU Dirusak, Warga Rembang Mengadu ke Polisi
Republika - Honor Panwas Sumut di Bawah UMR
Gatra.Com - Menhan AS Akan Kunjungi Indonesia
detikcom - SBY: Harga Minyak Tinggi, Cegahlah Konflik
Gatra.Com - Seorang DJ Wanita Medan Dijadikan Pelacur di KL
detikcom - Tempat Parkir Plaza Semanggi Belum 100 % Aman
detikcom - Besan SBY Dicekal!
Republika - Kemiskinan Warga Jakarta
Tempointeraktif.com - Badai Nikolas Melanda Mataram
detikcom - 2 Ribu Rumah Bantuan di Aceh Bermasalah
DetikSport - Iaquinta Tak Cemburui Del Piero
detikcom - Penahanan Burhanuddin Abdullah Harus Tunggu Izin Presiden
Republika - Kuba: Kembalikan Guantanamo
detikcom - Trailer Terperosok, Pengendara Dianjurkan Lewat Polsek Cilincing
Republika - Sastra Dalam Bus
detikcom - Burhanuddin Akan Diperiksa KPK, BI Ajukan Gugatan ke MK
detikcom - Mantan Bendahara YPPI Kembali Diperiksa KPK
Tempointeraktif.com - Kepala BIN: Tak Ada Perekrutan WNI oleh Askar
detikcom - Ibu dan Anak Tewas Akibat Longsor di Kudus
Republika - Pilkada Maluku Utara Jangan Memecah Rakyat
detikcom - Irit BBM dengan Air Rahmat
detikcom - Bayi Busung Lapar Muncul di Aceh
Tempointeraktif.com - Petani Minta Harga Pembelian Pemerintah Naik
Republika - Sembilan SPBU di Jaksel akan Dijadikan Taman Kota
detikcom - Tak Ada Layanan SIM Keliling di Jakbar dan Jaksel
detikcom - Pria Penembak Mahasiswa Northern Illinois Tewas
detikcom - Kebakaran Hutan di Dumai Nyaris Merambat ke Rumah Penduduk
DetikSport - Ronaldo Jalani Operasi di Prancis
Republika - Evaluasi Penyelenggaraan Haji
Republika - Inspirasi dan Informasi Peluang Usaha
detikcom - Jelang Seleksi Hakim Agung, KY Perlu Dekati Komisi III DPR
Republika - Reinado tak Berniat Membunuh
Republika - Berjilbab itu Mudah
detikcom - Ratusan PRT di Yogya Tuntut Libur Nasional dan Mingguan
Tempointeraktif.com - Boediono Yakin Data Pemerintah Benar
detikcom - Sebulan Jadi Dirut Peruri, Junino Stres Dituduh Korupsi
DetikSport -
detikcom - Dituding Mark Up Dana Kesehatan, BNP2TKI Dilaporkan ke KPK
detikcom - KBRI Persoalkan Perekrutan Tentara dari RI
Republika - Problem di Tanah Air, Petaka Bagi TKI di Luar Negeri
detikcom - Redam Konflik, Jam Malam di Timor Leste Diperpanjang
DetikSport - Blatter: Premiership Tamak
Tempointeraktif.com - Burhanuddin Tak Akan Penuhi Panggilan KPK
Gatra.Com - Pemberian Bantuan Tunai Diperluas
Republika - Menpera Dorong Pergurun Tinggi Gandeng Pengembang Bangun Rusunawa
Republika - Dua RS Swasta Terancam Sanksi
Republika - Jenazah TKW Erna Martini tiba di Sukabumi
detikcom - PDIP Siap Single Fighter Merebut Kursi Gubernur Jawa Tengah
Tempointeraktif.com - Nama Calon Direksi Pertamina Telah Dikirim ke Presiden
detikcom - Bayinya Lahir, TKW Korban Perkosaan Pasukan Rela Ketakutan
Republika - KARTU KREDIT VISA BANK BUKOPIN
detikcom - Muladi Usul Bentuk Badan Kelola Perbatasan
Forum Views () Forum Replies ()
Buru Buronan Ringkus Rekanan
NYONYA Maryati, 55 tahun, tak kuasa membendung cucuran air mata setiap teringat Muhammad Iqbal, 23 tahun, putra bungsu kesayangannya. Janda dua anak ini sudah dua pekan kesepian ditinggal Iqbal tanpa kepastian kabar. Ia kini sendirian menghuni rumah sangat sederhana di Mojosongo, Jebres, pinggiran utara kota Surakarta, Jawa Tengah.
Rumah tipe 15 meter persegi itu berdinding bata merah tanpa diplester. Atapnya seng yang sudah banyak berlubang. Dua kursi sederhana, meja panjang, dan mesin jahit tua menyesaki ruang tamu yang sempit. Sekitar rumah ditumbuhi pohon pisang.
Pagar rumahnya terbuat dari anyaman bambu setinggi 2 meter. Belum dicat. Dari depan, rumah itu tampak tersembunyi di balik pagar dan tetumbuhan. Kiri-kananya diapit dinding rumah tetangga yang kokoh dan mapan. Praktis, rumah Maryati paling sederhana di kompleks perumahan kelas menengah tersebut.
Anak pertamanya merantau ke Sulawesi sejak dua tahun lalu. Sehari-hari, Maryati hanya ditemani Iqbal. Sejak berumur tiga tahun, Iqbal dinafkahi sendirian oleh Maryati dengan bekal keahlian menjahit pakaian. Karena suaminya telah meninggal 20 tahun silam. Maryati sempat mampu menguliahkan Iqbal di Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Karena kesulitan ekonomi, studi Iqbal hanya bertahan dua setengah tahun. Alumnus Madrasah Aliyah Negeri I Bonoloyo, Surakarta, ini kemudian memilih berjualan keliling. Mulai dagang Al-Quran, madu, minyak wangi, sampai voucher ponsel. "Dia tidak pernah merantau jauh. Habis jualan pasti pulang," ujar Maryati, sambil sesenggukan, ketika ditemui Gatra, Jumat pekan lalu.
Senin 27 Juni lalu, Iqbal pamit pergi diajak seorang teman. Tapi, kali ini, Iqbal tak pulang-pulang. Sehari, dua hari, sampai sembilan hari berlalu, kabar Iqbal tetap tak menentu. Maryati juga tak tahu harus bertanya ke mana. Ia hanya bisa menangis.
Baru pada hari ke-10, Rabu 6 Juni lalu, dua kenalan Iqbal bertandang ke rumah Maryati membawa kabar duka: Iqbal ditahan Mabes Polri, Jakarta. Kesedihan wanita tua ini makin tak terperi. "Apa salah anak saya?" tanyanya kepada dua tamu yang, menurut Maryati, adalah ustad di Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, itu.
Ketika dibilang, Iqbal disangka terlibat terorisme, Maryati tak percaya. Ia memang tak tahu detail pergaulan Iqbal. Ia juga tak paham bagaimana anaknya berkenalan dengan beberapa ustad dari pesantren yang didirikan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir itu. Karena Iqbal bukan alumnus Ngruki. "Tapi saya tahu, anak saya tak pernah ke mana-mana. Jualannya juga sekitar Solo sini," katanya. "Ndak mungkin bisa ngebom."
Sehari sebelum Maryati mendapat kabar posisi Iqbal, Selasa pekan lalu, Mabes Polri memang mengumumkan penetapan 11 tersangka di antara 17 aktivis yang ditangkap di berbagai tempat. Mulai Wonogiri, Surakarta, sampai Jakarta. Penangkapan dimotori Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri. Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Brigadir Jenderal Sunarko, mengurai berbagai bentuk peran mereka yang mencengangkan.
Di antaranya, membantu persembunyian dua buron teror polisi kelas kakap: Dr. Azahari Husin dan Noor Din Mohd. Top; menyediaan detonator dan TNT bagi dua warga Malaysia itu untuk menyiapkan bom Kuningan, Jakarta, 9 September 2004; merencanakan teror bom di Mabes Polri dan Polda Metro; serta memasok senjata api ke daerah konflik di Indonesia dan Filipina Selatan.
Ratusan peluru dan bahan bom disita. Namun polisi tidak menyebut nama pelaku, hanya inisial. Yang paling dekat dengan nama Muhammad Iqbal adalah inisial "MI" alias "BI". Ia disangka menyembunyikan Azahari dan Noor Din serta membantu kegiatan operasi peledakan bom. Tapi belum ada konfirmasi resmi bahwa MI adalah Iqbal putra Maryati.
Nama Iqbal juga menjadi pusat perhatian ketika terjadi penangkapan besar-besaran di rumah Joko Sumanto, 29 Juni lalu. Sumanto alias Cunto, 39 tahun, adalah pemilik toko bahan bangunan UD Masa di dukuh Pokoh, Wonoboyo, Wonogiri, 40 kilometer selatan Surakarta. Rabu sore itu, Sumanto ditangkap bersama empat pegawainya: Dani Chandra, Suratmanto, Hananto, dan Tugino.
Pemicu penangkapan itu, karena Sumanto kedatangan seorang tamu yang konon bernama Iqbal. Isyarat ini diperoleh Gatra dari penjelasan ketua RT setempat, Sungatmin, 53 tahun, yang tinggal di depan rumah Sumanto. Secara samar, Sungatmin melihat polisi mencocokkan sebuah foto dengan wajah tamu itu. Lalu polisi itu membentak, "Kamu Iqbal, ya?" Sejurus kemudian, tamu itu diringkus.
Menjelang penangkapan, Sungatmin berusaha masuk rumah Sumanto. "Sebagai ketua RT, saya harus mengetahui apa yang terjadi pada warga saya," katanya. Tetapi ia dicegah seorang polisi. "Saya disuruh diam di tempat. Mereka mengaku dari Mabes Polri," paparnya. Polisi itu mengatakan sedang mencari seorang tersangka pengebom. "Tak dijelaskan tersangka pemboman mana," kata Sungatmin.
Di antara 11 tersangka, menurut seorang perwira, pentolannya memang bernama Iqbal. Tapi lengkapnya Iqbal Husaini alias Adrian Alamsyah, alias Ramli, alias Rambo. Merujuk inisial yang mirip nama ini (IH alias RL alias AA alias RI alias RB), perannya adalah membawa detonator dan TNT untuk Azahari dan Noor Din dalam bom Kuningan.
Tapi Iqbal Husaini ditangkap di Jakarta. Maryati juga menegaskan, anaknya bernama Iqbal saja, titik. Pada daftar tersangka yang dikantongi Tim Pengacara Muslim, ada dua Iqbal: Iqbal Husaini dan Iqbal Baihaqi. Semoga saja ketika polisi menangkap putra Maryati, bukan karena terobsesi nama besar Iqbal. Sehingga setiap pemilik nama Iqbal disikat.
Penangkapan di rumah Sumanto itu dinilai berlebihan oleh warga sekitar. Semua lelaki di rumah Sumanto digaruk. Hanya istri dan lima anaknya yang disisakan. Bahkan polisi hendak menciduk lelaki yang mau beli alat kikir besi. "Orang itu dilepaskan, tapi sempat ditendang kakinya. Kabarnya, sampai sekarang masih bengkak," tutur Daryatno, sepupu Sumanto.
Menurut Daryatno, selama bertamu, tak ada ketegangan di wajah orang yang diduga bernama Iqbal itu. Tamu itu datang sejak tengah hari. Karena kesibukan, Sumanto baru menemui tamu itu beberapa jam kemudian. "Kalau memang dia buronan, pasti tak akan berlama-lama di sini," kata Daryatno.
Proses penangkapan sendiri berlangsung cepat. Tak sampai 15 menit. Tapi aparat yang hadir sempat bikin geger lingkungan. Lebih dari tiga mobil memenuhi jalan kampung beraspal itu. Kebanyakan berpelat nomor Jakarta. Ada Kijang Krista biru dan KIA Carens perak. Mobil itu berisi aparat tanpa seragam dengan senjata laras panjang. Siap ditembakkan.
Betulkah Iqbal yang di rumah Sumanto itu anak Maryati? Hanya Sumanto yang tahu. Namun dari Maryati muncul pengakuan menarik. Belum lama ini, Iqbal pernah ingin memperbaiki atap rumahnya yang bocor dengan mengganti seng baru. "Belinya nanti di Wonogiri aja, lebih murah," kata Iqbal kepada ibunya. Siapa tahu, Iqbal ke rumah Sumanto sekadar untuk beli seng.
Pada daftar polisi, inisial yang mendekati nama Joko Sumanto, JS, dituding berperan memasok dana bagi Azahari dan Noor Din. Sedangkan inisial yang dekat dengan pegawai Sumanto, Dani Chandra, DC, diduga memiliki rangkaian elektrik dan komponen untuk bahan pembuat bom. Selasa lalu, Sumanto dan Dani tetap ditahan, statusnya naik jadi tersangka. Sedangkan tiga pegawai sisanya, Suratmanto, Hananto, dan Tugino, dibebaskan Rabu lalu.
Saat rencana pembebasan tersiar, Rabu pagi, seseorang yang mengaku sebagai anggota Polres Wonogiri menelepon istri Sumanto, Siti Fatimah, minta tebusan Rp 25 juta. "Katanya sebagai biaya untuk mengambil suami saya," ujar Fatimah ketika mengadu ke Front Perlawanan Penculikan (FPP) Surakarta.
Dana itu harus tersedia dalam waktu dua jam. "Oknum itu memanfaatkan momentum pembebasan pegawai Sumanto," kata Kholid Syaefullah, Koordinator FPP. Fatimah tidak menggubris. Kapolres Wonogiri menyangkal keterlibatan anak buahnya dan berjanji menelusuri.
Di mata Ketua RT Sungatmin, Sumanto warga yang baik. "Dia sama tetangga akrab. Dalam kegiatan kemasyarakatan juga aktif," paparnya. Selama tinggal di Pokoh, Sumanto tak pernah merantau dalam tempo lama. "Kalau pergi, paling untuk beli bahan dagangan tokonya itu," ujar Sungatmin. "Kalau pengajian, ya, masih sekitar sini saja."
Sumanto adalah sarjana ekonomi dari Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta. Dia penduduk asli Dukuh Pokoh. "Rumah yang ditempati saat ini adalah rumah orangtuanya yang telah meningal," kata Daryatno. Toko bahan bangunan yang ada adalah hasil rintisan Sumanto sejak tujuh tahun lalu. "Dulu hanya jualan bahan bangunan secara berkeliling," tutur Daryatno.
Ada lagi penangkapan yang berlangsung pada detik-detik menegangkan menjelang istri melahirkan. Joko Tri Priyanto ditangkap ketika menunggui istrinya yang hendak melahirkan di Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta, 29 Juni. Sementara Abdullah Sunata, 27 tahun, diringkus ketika menanti kelahiran anak kedua di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, 27 Juni.
Priyanto, penjual ponsel ini, ditangkap saat berjalan ke luar rumah sakit. Keluarganya tak tahu. Lulusan SMA Purnama, Surakarta, ini ketika ditangkap membawa duit Rp 7 juta untuk biaya kelahiran. Akibatnya, keluarga Priyanto harus cari utangan untuk membayar biaya rumah sakit. Bahkan motornya yang belum lunas kreditnya harus digadaikan senilai Rp 3 juta.
Ketika FPP konfirmasi ke polisi, Priyanto dibilang hanya membawa Rp 600.000. Dana Rp 7 juta itu tak jelas rimbanya. Priyanto adalah salah satu deklarator FPP. Priyanto alias Gondrong alias Antok ini, dan beberapa nama lain yang ditangkap, seperti Joko Tri Harmanto alias Harun alias Jack, menurut FPP, adalah para aktivis pergerakan Islam Solo. Satu dari keduanya pernah dikirim ke Ambon ketika bergolak. FPP menolak menyebut Joko mana yang pernah ke Ambon. "Nanti mendahului polisi," kata Kholid.
Inisial versi polisi yang mendekati nama Priyanto (JT alias JK alias GD alias AT) disangka menyediakan alat transportasi bagi Azahari dan Noor Din. Sedangkan inisial yang mirip Harmanto (JT alias HR alias JE) dituding menyediakan tempat persembunyian dua buron asal negeri jiran itu.
Adapun Abdullah Sunata alias Arman ditangkap usai salat subuh di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Istri Sunata, Siti Rohmah alias Arifah, yang dioperasi caesar Senin pagi pukul 06.00, 27 Juni itu tak tahu penangkapan suaminya. Dua jam setelah operasi, Sunata tiba-tiba menelepon Rohmah, mengabarkan bahwa ia ditahan di Mabes Polri.
Bila Iqbal, Sumanto, Priyanto, dan Harmanto ditetapkan sebagai tersangka pada Selasa 6 Juli lalu, Sunata baru berstatus tersangka dua hari kemudian: Kamis. Warga Cipayung, Jakarta Timur, ini ditahan di Bareskrim Mabes Polri dengan surat tahanan nomor SP. Han/012/VII/2005/Densus 88.
Penetapan status tersangka Sunata bersamaan dengan Ahmad Rofiq Zein alias Ali Zein, adik kandung Fathur Rohman Al-Ghozi, pemuda asal Madiun, terpidana aksi teror di Filipina yang sudah meninggal. Rofiq ditahan dengan surat nomor SP. Han/013/VII/2005/Densus 88. Hingga Jumat pekan lalu, tahanan kasus terorisme di Mabes Polri baru Sunata dan Rofiq. Sisanya masih di tahanan Polda Metro Jaya.
Lingkaran relasi para aktivis yang ditangkap kali ini tampaknya tak jauh dari para tersangka sebelumnya. Istri Sunata, Rohmah, adalah alumnus Pesantren Al-Muttaqin, Jepara. Di sini pula Mira Agustina pernah nyantri. Mira adalah istri Umar Al-Faruq, sosok misterius yang dicitrakan sebagai tokoh Jamaah Islamiyah, ditangkap di Bogor, lalu diserahkan ke pihak Amerika Serikat.
Menyongsong anaknya lahir, Sunata tinggal di rumah mertuanya, Abdullah Qodir, di kawasan sederhana, Kapuk Muara, Jakarta Utara. Qodir sering mengaji pada Umar Abduh, aktivis gerakan Islam yang banyak mengkritik komunitas NII KW9. Umar mengaku sudah lama memperingatkan Sunata saat resepsi pernikahannya, sekitar akhir tahun 2000.
"Dia sudah saya kasih tahu, kamu entar ditangkap. Berhenti dulu deh. Kalian cuma dijebak," ujar Umar. Tapi Sunata ngotot. "Ah, omong kosong," kata Sunata. Menurut Umar, Sunata sudah lama diincar polisi dalam kaitan jaringan Ba'asyir, Al-Qaeda, dan pengungkapan bom malam Natal 2000. Umar tidak menyebut peran Sunata lebih gamblang.
Ketika Qodir mengadukan penahanan Sunata, Umar hanya berpesan, "Ya, suruh ngerasain-lah sebentar, paling cuma dua-tiga minggu." Bila Qodir membesuk Sunata, Umar meminta agar Sunata membuka semuanya. Bagi Umar, ada pimpinan Sunata yang lebih layak ditangkap. "Jangan bodoh. Jangan sok jadi tameng dan pasang badan melindungi pimpinan!" kata Umar kepada Qodir.
Umar menilai berbagai penangkapan ini tak ada urusan dengan Azahari dan Noor Din. Ia yakin, dua buronan ini hanya figuran yang ditokohkan. "Noor Din dan Azahari hanyalah orang-orang yang disusupkan. Sebenarnya bukan hal sulit bagi Polri untuk menangkapnya," katanya.
Anggota Tim Pengacara Muslim, Mahendradatta, punya teori bahwa dua buron itu adalah tokoh fiktif. "Kalau mau dianalisis, orangnya sebenarnya tidak ada," katanya kepada Alexander Wibisono dari Gatra. "Karena jumlahnya banyak. Azahari dan Noor Din itu lebih dari satu. Karena para terdakwa bilang, Azahari bukan yang di foto itu." Beda terdakwa, beda pula sosok Azahari yang dikenalnya.
Dugaan serupa terlintas di benak Achmad Michdan, satu-satunya anggota Tim Pengacara Muslim yang sudah membesuk tahanan, Jumat pekan lalu. Namun Michdan lebih menaruh perhatian pada prosedur penangkapan. "Yang penting penangkapannya prosedural, jangan ada kekerasan," katanya. Sejauh ini, ia menilai, tersangka diperlakukan secara proporsional.
Hanya saja, keluarga tersangka menilai proses ini cacat prosedur karena tanpa surat. "Ini jelas bukan penangkapan, tapi penculikan!" teriak Eko Priyanto, kakak kandung Joko Tri Priyanto. Kabareskrim Mabes Polri, Inspektur Jenderal Makbul Padmanegara, mempersilakan protes lewat praperadilan bila polisi melakukan kekerasaan saat menangkap.
Ihwal tiadanya surat penangkapan, menurut Makbul, dalam kasus terorisme dibolehkan. Polisi diberi waktu tujuh hari. Menyikapi pesimisme masyarakat pada keseriusan polisi menangkap Azahari, Makbul berujar enteng. "Dari dulu akan kami tangkap, tapi belum dapat-dapat," katanya kepada Elmy Diah Larasati dari Gatra.
Sementara itu, Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Zainuri Lubis, menyebut belasan terangka kali ini sebagai satu kesatuan kelompok yang membantu Azahari. Berarti sasaran makin dekat. Jadi, tak ada alasan Azahari lolos lagi?
Asrori S. Karni, Luqman Hakim Arifin, Deni Muliya Barus, dan Mukhlison S. Widodo (Surakarta)
[Laporan Utama, Gatra Nomor 35 Beredar Senin, 11 Juli 2005]
Berita Acak dari arsip :

